DUNIAEKSPRESS.COM (4/11/2020)– Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM), kelompok jihadis yang berafiliasi ke Al-Qaeda ini telah meminta para pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang menghina Nabi Muhammad dan mengancam Presiden Prancis Emmanuel Macron atas komentar yang dia buat tentang Islam dan karikatur kontroversial Charlie Hebdo yang menggambarkan tokoh agama Islam yang penting.

“Membunuh siapa saja yang menghina Nabi adalah hak setiap Muslim,” kata kantor berita Agence France Press mengutip pernyataan yang konon dibuat oleh outlet teroris, dilansir dari laman Sputnik News, Selasa (3/11).

AQIM mengatakan bahwa boikot produk Prancis adalah kewajiban tetapi mencatat bahwa tindakan tersebut tidak cukup untuk membalas dendam atas pernyataan Macron. Kelompok itu menggambarkan pemimpin Prancis itu sebagai seorang anak muda dan tidak berpengalaman, yang memiliki otak kecil.

Baca juga:

DERITA PARA WANITA PALESTINA DI PENJARA ISRAEL

ISIS BERTANGGUNG JAWAB ATAS SERANGAN DI WINA

Hubungan antara Prancis dan sebagian dunia Muslim baru-baru ini memburuk setelah pembunuhan seorang guru sekolah di pinggiran kota Paris.

Penyerangnya, seorang imigran Muslim berusia 18 tahun, memenggal kepala Samuel Paty setelah dia mengetahui bahwa pria berusia 47 tahun itu menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya selama pelajaran kebebasan berbicara.

Macron mengutuk pembunuhan guru tersebut, yang dia gambarkan sebagai pahlawan yang mewujudkan nilai-nilai Prancis dan secara anumerta memberinya penghargaan sipil tertinggi negara itu, Legion d’Honneur.

Dalam pidatonya, Macron membela keputusan Paty untuk menunjukkan karikatur tokoh utama agama Islam, menyatakan bahwa keputusan guru dilindungi di bawah hak Prancis untuk kebebasan berbicara.

“Kami akan melanjutkan, guru. Kami akan mempertahankan kebebasan yang kamu ajarkan dengan sangat baik,” kata Macron kepada 400 tamu yang menghadiri upacara pemakaman.

Pernyataan Macron, serta keputusan untuk memproyeksikan karikatur Nabi Muhammad di gedung-gedung pemerintah di seluruh Prancis, menyebabkan keributan di beberapa negara Muslim. Protes skala besar diadakan di Bangladesh, Lebanon dan Malaysia.

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan menyebut komentar Macron memecah belah. Sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pemimpin Prancis membutuhkan pemeriksaan mental. Pakistan dan Turki juga menyerukan boikot terhadap produk Prancis.[rep]