DUNIAEKSPRESS.COM (7/11/2020)– Maher Al-Akhras, seorang tahanan Palestina yang berasal dari Jenin mengakhiri mogok makannya pada hari Jumat (8/11) setelah selama 103 hari tanpa asupan makanan.

Masyarakat Tahanan Palestina mengkonfirmasi keputusannya dalam sebuah pernyataan resmi yang mengatakan otoritas penjara Israel akan membebaskannya pada 26 November.

Al-Akhras, 49, dari kota Jenin, Tepi Barat, memulai mogok makan setelah dia ditahan di bawah kebijakan Israel yang kejam yang memungkinkan pihak berwenang menahan tahanan selama lebih dari satu tahun tanpa dakwaan atau pengadilan.

Dia akan menghabiskan 20 hari sampai dibebaskan di Rumah Sakit Kaplan di mana dia akan menerima perawatan, kata pernyataan itu.

Baca juga:

KOMANDAN ANTI TALIBAN JADI TARGET SERANGAN BOM

“Maher mengatakan bahwa kemenangan ini bukan untuk dia sendiri. Ini adalah kemenangan bagi semua rekannya yang menantang penahanan administratif dengan melakukan mogok makan,” kata istrinya Maher, Taghreed Al-Akhras mengatakan kepada Anadolu Agency

“Pemogokannya membuat dunia mendengarkan suara para tahanan dan mengetahui tentang penderitaan mereka yang berada di bawah penahanan administratif.” tambahnya.

Maher Al-Akhras, 49, berasal dari Jenin di Tepi Barat bagian utara yang diduduki. Dia telah ditahan sejak 27 Juli di bawah perintah penahanan administratif tanpa dakwaan atau pengadilan. Dia melancarkan mogok makan merupakan protes terhadap penahanannya yang terus berlanjut.

Setelah kesehatannya memburuk, dia dipindahkan dari Penjara Ofer ke Rumah Sakit Kaplan di kota Rehovot, Israel, di mana dia telah minum air tetapi menolak makanan padat, jelas keluarganya.

Sekitar 4.400 tahanan politik Palestina mendekam di penjara Israel, menurut badan Palestina. Angka tersebut mencakup 39 wanita dan 155 anak.