Wina: Antara ISIS Dan HAMAS

Duniaekspress.com, 9 November 2020. Kujtim Fejzulai, seorang warga negara ganda Austria dan Makedonia Utara telah melakukan serangan mematikan di Wina, Austria dengan menargetkan warga sipil. Pria tersebut positif diidentifikasi sebagai algojo ISIS. ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan melalui media utama mereka Amaq bersama dengan gambar dan video yang menunjukkan pria bersenjata itu.

Serangan ini tergolong “ketinggalan momen”, karena -besar- maksud ISIS adalah memanfaatkan momen kemarahan kaum muslimin atas penghinaan Nabi di Perancis. Namun, -tentunya- serangan mematikan ISIS ini tidak mendapatkan simpatik kaum muslimin karena serangannya yang tidak menyasar target yang sah dan benar. Karenanya, salah satu Gerakan Jihad terbesar di dunia, HAMAS, mengutuk serangan tersebut sebagai serangan pengecut.

Jika ditilik dari sisi fikih siyasi, serangan ISIS sama sekali tidak berdampak maslahat untuk Islam dan Kaum muslimin, karena serangan ISIS di Wina ini lebih mirip dengan serangan brutal yang dilakukan psyikopat daripada pembelaan kepada Islam dan Muslimin. Karena Islam melarang pembunuhan atas orang yang tak bersalah (baca, sipil yang tidak memerangi) dan memerintahkan berbuat baik (baca, ihsan) kepada manusia secara universal karena mereka bagian dari objek dakwah secara umum. Allah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” [Q.S. Al-Isrâ`/17: 33].

Orang yang tidak memerangi Islam dan Muslimin bukanlah target sah untuk dibunuh. Karenanya Nabi dahulu tidak pernah membunuh orang-orang yahudi di Madinah -tanpa hak- kecuali mereka pantas dibunuh dan benar secara syariat untuk dibunuh; dan ini adalah makna membunuh dengan hak. Maka jangan heran jika Nabi memasukkan membunuh tanpa alasan yang dapat dibenarkan syariat termasuk ke dalam tujuh dosa yang membinasakan pelakunya dan memyebabkan pelaku masuk ke dalam neraka. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Syirik kepada Allâh, sihir, membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [HR Al-Bukhâri, No. 2615, 6465; Muslim, No. 89].

Secara syariat, orang yang tidak memerangi muslimin karena faktor agama dan tidak mengusir mereka bukanlah target sah. Bahkan justru syariat memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka seperti yang dicontohkan Nabi agar mereka terpesona dengan akhlak muslim dan menjadi sebab mereka masuk ke dalam Islam sebagaimana kisah masuknya anak kecil yahudi karena terpesona dengan akhlak Nabi saat mengunjunginya dikala sakit. Perhatikan firman Allah berikut:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Q.S. Al-Mumtahanah/60: 8-9].

Kesimpulan

Apa yang dilakukan ISIS dengan menargetkan masyarakt sipil secara membabi buta adalah dosa dan pelanggaran kepada syariat. Ini membuktikan kalau ISIS terdiri dari para psyikopat yang ingin mengambil simpati kaum muslimin namun salah dalam prakteknya. Mereka ingin tampil sebagai tameng dan pahlawan, namun aksi mereka selalu dicela karena salah target dan “kesiangan”. Hal ini diperparah, karena psykopat ini adalah orang-orang bodoh atau disetir orang bodoh untuk melakukan kejahatan atas nama agama. [ ]