Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 19, Tentang musamma

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 18

Duniaekspress.com. (12/11/2020). – Ibnu Tamiyyah berkata, “dalam perkataan bangsa Arab dan lainnya, mereka menafikan sesuatu dalam bentuk kalimat terbatas atau lainnya, kadang-kadang hal itu disebabkan ketidakadaan jati dirinya dan kadang-kadang disebabkan ketidakadaan manfaat dan maksudnya.

Mereka membatasi sesuatu pada selainnya: kadang-kadang karena terbatasnya manfaat atau kesempurnaan didalamnya.

Kemudian, mereka kadang-kadang mengembalikan penafian itu kepada sesuatu yang disebut, kadang-kadang juga mereka mengembalikannya kepada Namanya, meskipun ia merupakan perkara yang sudah jelas dalam Bahasa, bila maksud sebenarnya dari nama yang dinafikan itu bermakna tetap pada lainnya. Contoh Firman Allah ta’ala :

“Katakanlah, ‘Hai Ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran taurot, injil, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu’. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakkan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (Al-Maidah : 68).

Penafsiran tentang mereka adalah “sebutan sesuatu”, kendatipun itu pada dasarnya mencakup semua kebenaran dan kebathilan yang ada. Karena apa yang tidak berfaedah dan bermanfaat didalamnya di kembalikan kepada kebathilan yang mana itu tidak ada, maka kedudukannya menjadi tidak ada.” (Majmu Al-Fatwa, XXV/87).

Ia mengatakan, “Sebagaimana halnya mereka dalam penetapan, mereka menetapkan sesuatu dengan nama yang disebutkan (ism musamma) bila terpenuhi maksud dari nama tersebut, meskipun gambaran musamma (sesuatu yang disebut) tidak ada. Demikian pula dalam penafian, bila perangkat-perangkat penafian menujukkan tidak adanya nama karena tidak ada musamma-nya (sesuatu yang disebut) :

Adakalanya karena tidak ada sama sekali.

Adakalanya karena tidak ada hakikat yang dimaksud dengan musamma (sesuatu yang disebut).

Adakalanya tidak sempurna hakikat

Dan adakalanya karena musamma adalah tidak harus menjadi yang sesuatu dimaksudkan, tetapi yang dimaksud adalah sesuatu yang lain. Adakalanya juga karena sebab lain.” (Al-Majmu Al-Fatwa, 25/89).

Syaikh Abu Qatadah berkata, “Kaidah ini bila diperhatikan oleh Thalibul Ilmi, niscaya ia tahu dari mana datangnya ahli bid’ah. Sebab, mereka mengira bahwa penafian sesuatu pasti berarti penafian terhadap hakikatnya secara pasti, dan penetapan terhadap sesuatu selalu bermakna kesempurnaan hakikatnya, secara rukun, kewajiban, dan anjuran seluruhnya. Inilah penyebab kesesatan kelompok-kelompok bid’ah; Khawarij, Murji’ah, Qadariyah, dan Jabbariyah.

Kemudian, mereka setelah itu menggenaralisir penerapan hukum ilgha’I, peleburan hukum pada sesuatu yang bersifat parsial, atau menafikan hukum secara keseluruhan disebabkan tidak adanya Sebagian atau bagian-bagiannya. Dengan ini, anda akan mengetahui kebodohan orang yang memberlakukan generalisasi hukum syari’at hanya didasarkan syiar-syiar dan kata-kata tanpa melihat hakikat dan realitas.”

Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “sesuatu yang tertulis (manshush’alaih) tidak selalu dianggap selama ia tidak tertulis persis dari seluruh aspek.” (Al-I’tisham, II/246).

InsyaAllah Bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 17