Duniaekspress.com, 17 November 2020. Setiap bulan Rabiul Awal selalu saja ada video-video pendek ceramah agama yang diproduksi untuk mengkritisi acara dan perayaan Maulid Nabi. Dan belakangan ini, menurut pentauan penulis, video yang berbeda juga diproduksi oleh kelompok yang merayakan Maulid Nabi. Bertebarnya video-vedeo yang saling menegasi tersebut membuat publik, khususnya kaum muslimin awam menjadi bingung; mana yang benar? Hal ini diperparah dengan narasi-narasi yang saling menjatuhkan, tuduhan dan stempel sesat yang makin membuat gaduh dan runyam suasana dan ruang keberagamaan kaum muslimin.

Kelompok salafi adalah kelompok yang paling keras menolak perayaan Maulid dalam bentuk apapun; baik itu hanya sekedar ceramah agama dan pembacaan Sirah Nabawiyah maupun acara Maulid dengan perayaan dan diringi makan-makan dan acara pengiring lainnya. Bagi mereka Maulid Nabi adalah bid’ah yang paling keji dan kemungkaran yang paling besar yang telah diada-adakan para zindiq perusak agama. Narasi ini sebagaimana yang diulang-ulang Abdul Hakim Amir Abdat dan para ustadz salafi lainnya dalam kajian-kajian mereka yang disebar di dunia maya.

Dengan memasukkan Maulid Nabi ke dalam bid’ah yang paling fatal, salafi meramu kata dan memprovokasi para pengikutnya seolah-olah Maulid Nabi adalah masalah akidah yang paling ushul, bid’ah yang merusak agama Allah sehingga masyarakat harus diperingatkan dari bahaya acara tersebut. Tentu sikap ini adalah kesalahan yang sangat fatal, karena masalah Maulid Nabi adalah masalah khilafiyah yang tak akan selesai sampai hari kiamat kelak. Perlu diketahui, sebagaimana yang tidak setuju, yang setuju dengan Maulid juga sangat banyak dan mereka adalah para imam dan ulama besar agama ini. Jadi tidak sehat jika harus memprovokasi umat dalam masalah khilafiyah ini.
**

Masalah Mauilid Nabi adalah masalah khilafiyah ijtihadiyah. Sebagian ulama memandang baik perayaan Maulid Nabi. Diantara mereka ada sederatan ulama-ulama besar. Imam Suyuthi misalnya, ulama dari kalangan Syafi’iyyah ini menyatakan bahwa merupakan bid’ah hasanah, orang yang merayakanya akan memperoleh pahala, karena yang demikian adalah bentuk mengagungkan kemulian Nabi dan mengungkapkan rasa bahagia akan kelahirannya.
Imam Ibnu Abidin dari kalangan Hanafiyah menyatakan bahwa di antara bid’ah-bid’ah yang terpuji adalah melaksanakan maulid Nabi yang mulia pada bulan dilahirkannya Nabi. Bahkan ada ulama Hanbali yang juga sepakat dengan para ulama ini, yaitu Ibnul Jauzi. Beliau menjelaskan bahwa di antara keistimewaan peringatan Maulid Nabi adalah diharapkan peringatan itu memberikan rasa aman pada tahun itu, dan kabar bahagia akan tercapainya harapan dan tujuan
**

Kesamaan Salafi dan Isis dalam Menyikapi Perbedaan

Menurut penulis, ada kesamaan antara sikap keras salafi dan ISIS; tentu selain mereka sama-sama menyadarkan pemahaman mereka kepada manhaj salaf dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun ada satu kesamaan mereka yang paling khas, yaitu dalam menyikapi perbedaan, ikhtilaf ijithadiyah dan sikap keras mereka kepada kelompok-kelompok islam lainnya. Mereka selalu mengkaitkan ikhtilaf dalam masalah amaliyah (hal yang terkait dengan perbuatan) dengan masalah i’tiqadiyah (baca, masalah akidah). Sehingga perbedaan ijtihad dan ragam penafsiran bisa dibawa ke kajian akidah yang melahirkan narasi yang populer, “Beda Manhaj”. Ini fakta. Bukan tuduhan.

Jika masalah perbedaan dalam hukum fikih, ijtihad/kebijakan kelompok dibawa ke ranah akidah, ke ranah keyakinan, maka bisa ditebak kesimpulannya; beda amal adalah beda manhaj, beda manhaj adalah beda akidah. Selanjutnya, yang di luar manhaj salaf maka bukan ahlus sunnah wal jamaah, mereka ahlul bid’ah, mereka sesat, pengekor hawa nafsu, jahil tidak tahu agama dan tidak berilmu, mereka musyrik, mereka kafir, dan seterusnya. Lucunya lagi, baik salafi maupun ISIS, jika ditanya apakah mereka menyesatkan kaum muslimin di luar mereka, menyesatkan asy’ariyah, -dalam konteks keorganisasian agama, apakah mereka menyesatkan NU dan Muhammadiyah-, maka mereka dengan tegas mengatakan mereka tidak menyesatkan semuanya. Mereka seperti kelompok autis, atau kelompk pikun yang lupa omongan sendiri.

Jika salafi dan ISIS ditanya apakah kaum muslimin kafir atau musyrik? Mereka akan menjawab mereka muslim. Tapi kalau kaum muslimin tersebut mengimani kalau Allah tidak di atas arsy, Allah tidak ada di suatu ruang/tempat dan waktu tertentu, Allah tidak bertangan, dan sederet pertanyaan lain yang menurut mereka adalah masalah akidah yang paling ushul, maka mereka katakan, “Yang berpendapat demikian maka dia kafir”. Apakah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa mayoritas kaum muslimin di negeri ini adalah asy’ariyah, pengikut Abul Hasan Al-Ays’ari? Lalu lupakah mereka dengan sikap dan jawaban tegas mereka kepada keyakinan-keyakinan asy’ariyah dan pengikutnya? Atau mereka ini pengidap alzheimer?

Begitu juga ISIS. Mereka mengaku tidak mengkafirkan manusia, tidak mengkafirkan kaum muslimin, namun jika ada orang yang ikut pemilu maka dia dikafirkan oleh mereka. Kalau begitu kafirlah semua warga Indonesia dan kaum lainnya yang ikut pemilu dan terlibat dalam partai-partai islam. Apakah mereka tidak sadar dengan bahaya fatwa mereka dan takfir mereka? Atau mereka ini pengidap alzheimer yang lupa dengan omongan sendiri?
Kesimpulan yang bisa penulis sampaikan melalui tulisan pendek ini adalah, bahayanya sikap ekstrim dalam memahami perbedaan yang sifatnya ijtihadiyah akan menyulut kepada pengkafiran, penyesatan dan klaim paling benar sendiri. Kita butuh formula baru, formula yang bagus dalam memahami dan memetakan perbedaan-perbedaan di antara kita sehingga ruang keberagamaan kita tidak keruh dan menciptakan sesuatu yang negatif dan buruk. [Sutan Serdang ]

Baca juga, TERJEBAK DI TENGAH PERSETERUAN SALAFI DAN BANSER