DUNIAEKSPRESS.COM (18/11/2020)– Senator dari Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) meminta Facebook berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran kefanatikan anti-Muslim. Permintaan ini setelah raksasa media sosial itu dikritik karena gagal menangani serangan terhadap Muslim pada beberapa kesempatan, termasuk kasus penembakan di Christchurch.

Dalam sebuah surat yang dikirim ke Facebook kepada CEO Mark Zuckerberg pada Senin (16/11), sebanyak 15 Senator mengatakan platform tersebut perlu segera menegakkan standar komunitasnya untuk mengatasi kebencian anti-Muslim. Mereka meminta Facebook melarang penggunaan halaman aplikasi untuk tujuan pelecehan, pengorganisasian, dan kekerasan terhadap komunitas Muslim.

Surat itu juga mengatakan Facebook tidak mengambil langkah yang tepat untuk menegakkan kebijakan seruan untuk bersenjata saat demonstrasi di masjid. Sebuah aturan yang berlangsung selama setahun yang menganjurkan orang membawa senjata ke masjid dan tempat ibadah lainnya.

“Kami menyadari Facebook telah mengumumkan upaya untuk menangani konten anti-Muslim di beberapa area ini. Namun, tidak jelas apakah perusahaan memiliki posisi yang lebih baik untuk mencegah pelanggaran hak asasi manusia lebih lanjut dan kekerasan terhadap minoritas Muslim saat ini,” kata surat yang ditandatangani oleh Senator Chris Coons, Elizabeth Warren, Bernie Sanders dan 12 lainnya dilansir di Middle East Eye, Selasa (17/11).

Baca juga:

PRESIDEN PALESTINA PUJI PM PAKISTAN, INI SEBABNYA

SEKJEN IUMS KECAM ARAB SAUDI YANG MEMASUKAN IKHWANUL MUSLIMIN SEBAGAI ORGANISASI TERORIS

Audit hak sipil independen dari perusahaan media sosial yang dirilis pada Juli menguraikan, meskipun memiliki kebijakan yang melarang ujaran kebencian terhadap kelompok agama, insiden ujaran kebencian terus berlanjut di Facebook. Muslim Advocates, sebuah kelompok hak asasi yang menyerukan audit dua tahun lalu, berterima kasih kepada para senator karena telah menulis surat tersebut.

“Sejak 2015, Muslim Advocates telah memperingatkan Facebook bahwa halaman mereka digunakan milisi yang kejam dan nasionalis kulit putih untuk mengatur demonstrasi bersenjata di masjid,” kata Direktur Eksekutif kelompok tersebut Farhana Khera.

“Kami perlu tahu apa yang Facebook rencanakan untuk mengakhiri kebencian dan kekerasan anti-Muslim yang diaktifkan oleh platform mereka dan mengakhirinya sekarang,” katanya.

Facebook dituduh menyediakan platform untuk menghasut kekerasan terhadap Muslim di seluruh dunia, termasuk serangan Christchurch, kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar, dan kekerasan terhadap Muslim di India. Para senator menulis Facebook juga telah digunakan mendukung penahanan Uighur di China dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya terhadap populasi ini.

Facebook dan Whatsapp juga telah digunakan untuk menghasut kekerasan terhadap Muslim di India. Itu menjelaskan Facebook telah digunakan untuk mempromosikan kebencian dan kekerasan di wilayah lain di seluruh dunia.

Laporan pada 2018 menunjukkan pejabat tinggi militer Myanmar telah menggunakan platform media sosial ini untuk menghasut pembersihan etnis terhadap populasi Muslim Rohingya. Facebook mengakui pada November 2018 mereka gagal mencegah platformnya digunakan untuk menghasut kekerasan di Myanmar.

Pada 2019, pria bersenjata yang menewaskan 51 jamaah Muslim di Selandia Baru telah menyiarkan penembakan massal di Facebook Live selama 17 menit sebelum dihentikan oleh platform tersebut. “Sebagai anggota Kongres yang sangat terganggu oleh penyebaran ujaran kebencian ini di platform Anda, kami mendorong Anda berbuat lebih banyak,” bunyi surat senator itu.[rep]