Serial Sejarah Ghulat ISIS (IS) : Terapi Kejut (Shock Therapy).

Baca sebelumnya, SERIAL SEJARAH GHULAT ISIS (IS) : BANTAHAN DARI TURKI AL-BIN’ALI

Duniaekspress.com. (19/11/2020). –  Pada bulan Juli dan Agustus muncul sekumpulan sanggahan lain oleh para ulama Negara Islam (ISIS). Ini ditujukan tidak hanya kritik terhadap ta’mim Komite Delegasi, tetapi juga kepada kepemimpinan kekhalifahan secara umum. Yang pertama dari sanggahan ini ditulis di Mayadin, Suriyyah oleh seorang pejabat syari’at bernama Abu Muhammad Al-Hussaini Al-Hasyimi, seorang Sa’udi keturunan Suriyyah. Dirilis pada tanggal 5 Juli dengan judul “Nasihat Hasyimiyyah untuk Amir Negara Islam”, surat tersebut dipertujukan kepada Abu Bakar Al-Baghdadi, dimana penulis mencurahkan kemarahan dan frustasinya. “Kekhalifahan ini,” katanya,”sedang dimakan wilayah demi wilayah…Mereka yang dulu takut kepada kita sekarang menyerang kita dan mereka yang dulu melarikan diri dari kita, tentara kita sekarang yang melarikan diri…
Negara Islam (ISIS) telah menjadi sebuah entitas dimana bid’ah dan ekstremisme telah menyebar, dimana posisi paling penting ditempati oleh orang-orang yang menindas dan jahat yang bersekutu dengan Khawarij.”
“Wahai, Khalifah,” katanya,”Anda melihat dan Anda tidak berdaya untuk melakukan apapun.”
“Wahai, Khalifah, dimana manhaj nubuwwah dengan manhaj yang pertengahan (tidak ghuluw dan tidak tafrith). Jika ini adalah kekhalifahan, maka tentu saja itu bukan kekhalifahan yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad ; ini adalah hal terjauh dari manhaj nubuwwah.” “Jika ada kalimat kritik yang bernada keras, “dia menulis,” itu karena
pasien yang sakit membutuhkan terapi kejut.” Al-Hasyimi juga mengutuk beberapa orang di Kominte Delegasi. Misalnya ‘Abdun Nashir Al-‘Iraqi laknatullah’alaih, dia adalah pemimpin Komite Delegasi dan dia juga yang telah meletakkan stempelnya pada ta’mim yang mengerikan tersebut dan Abu-Hafsh Al-Jazrawi, seorang kelahiran
Sa’udi di bagian keamanan (Diwan ‘Amni) juga berulang kali dicela dan di doakan semoga Allah memberinya tempat kembali di neraka-. Al Hasyimi juga mengungkapkan bahwa ia pernah bekerja di Kantor Penelitian dan Studi dibawah pimpinan Turki Al-Bin’ali dan wakilnya, Abu Muhammad Al-‘Azdi. Disana ia menyaksikan secara langsung penurunan fungsi dari departemen ke badan, lalu menjadi kantor dan penurunan yang terkait dari pengaruhnya dalam menghadapi konsentrasi kekuasaan yang semakin besar berada di tangan Komite Delegasi. Kematian Turki Al-Bin’ali menurut Al-Hasyimi, ia merenung, bukanlah sebuah kebetulan.
“Turki Al-Bin’ali dan para ulama lainnya yang menentang ta’mim tersebut telah diatur untuk mati dalam serangan udara koalisi, koordinat posisi mereka telah dibocorkan ke tangan para Salibis. Mungkin [Komite Delegasi] telah membunuh beberapa dari mereka dan berkata, ‘Pesawat-pesawat tentara Salib lah yang telah membunuh mereka.'”Al-Hasyimi juga mengatakan bahwa Abu ‘Abdul Bar As-Salihi bersama dengan lebih dari enam puluh pendukungnya tewas dengan cara ini. Mereka ditangkap pada akhir Juni, kemudian mereka dikurung dipenjara dan kemudian dilenyapkan dalam serangan udara. Semua masalah ini, katanya, telah dibagikan kepada banyak ulama-ulama di Negara Islam. “Jika Anda mau, saya dapat menyebutkan untuk Anda lebih dari 30 ulama dan hakim yang semuanya akan berbicara mendukung apa yang telah saya tulis ini.”
Salah satu ulama yang mendukung Al-Hasyimi adalah Khabbab Al-Jazrawi yang pada pertengahan Agustus merilis pernyataan tentang berita kematian Abu Bakar Al-  Qahthani. Al-Qahthani, seorang ulama kharismatik kelahiran Sa’udi di Negara Islam (ISIS), yang dikenal karena penentangannya yang kuat terhadap Ghulat (ia berdebat  selama
berjam-jam dengan para ekstremis tentang masalah takfir), Al-Qahthani dilaporkan terbunuh oleh serangan udara pada 11 Agustus. “Keadaan suram ketika Al-Qahthani terbunuh mengingatkan Al-Jazrawi tentang cara Turki Al -Bin’ali terbunuh. “Khabbab Al-Jazrawi melanjutkan dalam pernyataan ini, penjelasan tentang kebangkitan orang orang yang ia sebut sebagai orang-orang Khawarij. Sementara beberapa tahun yang lalu mereka tampaknya telah ditundukkan, pada kenyataannya hanya satu kelompok dari mereka yang dipimpin oleh Abu Ja’far Al-Haththab yang telah dibersihkan, mereka mengkafirkan khalifah dan mencoba memberontak. Kemudian lanjutnya, “Negara[Islam] mulai memperlakukan orang Khawarij dengan baik…dan [pada akhirnya] mengadopsi doktrin mereka untuk mempertahankan kekuasaan dan karena takut jika Khawarij berbalik arah dari mereka.”
Pada akhir Agustus, seorang ulama Negara Islam (ISIS) lainnya menyuarakan keprihatinan seperti yang dilakukan oleh Al-Hasyimi dan Al-Jazrawi dalam sebuah pernyataan panjang lebar. Ini adalah surat terbuka yang ditulis oleh Abu ‘Abdul Malik Asy-Syami di Dair Az-Zur, “Kepada semua orang yang peduli dengan kekhalifahan dan penegakan hukum Allah di muka bumi.” Surat itu berjudul “Menghela Napas dari Negara Penindas” yang berisi sebagai berikut. Asy-Syami menggambarkan keadaan saat ini di dalam Negara Islam (ISIS) sebagai” mimpi buruk yang benar-benar terjadi yang mengancam untuk memusnahkan kita.” “Tragedi terjadi dengan sangat cepat, dengan kota-kota yang jatuh satu demi satu dan sekarang semua yang tersisa adalah sebidang tanah kecil daerah yang meliputi Mayadin, Al-Bukamal, dan beberapa desa diantara mereka.”

Penyebab semua malapetaka ini banyak, namun menurutnya ada tiga penyebab utama:
1. Kepemimpinan Negara Islam (ISIS) yang didominasi dan diisi oleh para pengkhianat.
2. Para Khawarij yang dilindungi dan diberdayakan oleh nomor 1.
3. Media Negara Islam (ISIS) yang terus berbohong penuh tipu daya yang selalu meyakinkan kita bahwa Negara Islam keadaannya baik-baik saja, padahal kenyatannya tidak.
“Khalifah ini”, katanya, “telah vakum dari tampuk kepemimpinannya dalam beberapa waktu, Komite Delegasi yang sangat berkuasa mengambil alih kepemimpinannya ketika ketidak hadiran khalifah. Setelah Abu Muhammad Al
‘Adnani dan kemudianAbu Muhammad Al-Furqan, pemimpin Komite Delegasi adalah ‘Abdun Nashir Al ‘Iraqi yang telah memberikan dukungan kepada para ekstremis/Ghulat lebih dari pendahulunya.”
“Al-Furqan juga,” menurutnya, “telah mendirikan Kantor Pusat untuk Pengawasan Departemen (Maktab al-Markazi) untuk menyenangkan para ekstremis, Turki Al-Bin’ali padahal telah mengajukan keberatan atas pernyataannya pada takfir (rilisan Maktabal Markazinu.155), tetapi Al-Furqan telah meyakinkannya. Kemudian ‘Abdun Nashir Al-‘Iraqi selama masa jabatannya mendirikan sesuatu yang disebut Kantor untuk Penelitian Metodologi (Maktab Tadqiq al-Manhaji) –Turki Al-Bin’ali mengacu dengan ini dalam suratnya kepada Komite Delegasi sebagai Komite Metodologi (Lajnah Manhajiyyah) yang tujuannya adalah untuk menegakkan kemurnian ideologis dengan menyelidiki mereka yang dituduh memegang keyakinan irja’. Itu adalah bentengnya
ekstremis/Ghulat. Kemudian datanglah malapetaka besar, yaitu rilisnya ta’mim Komite Delegasi yang dimaksudkan untuk menegaskan beberapa doktrin ekstrem/ghuluw dan akhirnya ta’mim tersebut memicu reaksi keras.”
Asy-Syami menyebutkan bahwa para ulama seperti Al-Bin’ali, As-Salihi, An-Najdi, dan Al-Jazrawi yang semuanya telah dibunuh atau dianiaya dipenjara setelah berbicara. Para ekstremis/Ghulat, menurut Asy-Syami, terutama berasal dari Tunisia dan Mesir, kemudian ada juga yang berasal dar iSa’udi, Azerbaijan, dan Turki. Ia memperkirakan pemerintah Sa’udi mengirim Al-Hazimi keTunisia untuk merusak pikiran para jihadis muda yang kemudian hijrah ke’Iraq dan Suriyyah. Dia juga menganggap kepemimpinan Negara Islam (ISIS) telah ditembus oleh mata-mata dinas intelijen regional yang bekerja dengan para ekstremis/Ghulat.
Sementara itu, “Media Negara Islam (ISIS) terus menyembunyikan berira tentang kehilangan wilayah dan penarikan mundur tentara Negara sambil memikat mereka dengan fantasi dan ilusi memalukan. Salah satu ilusi adalah klaim bahwa kita hidup di akhir zaman, bahwa Negara Islam adalah negara yang akan menaklukan Istanbul (Konstantinopel) dan kemudian Roma, dan salah satu khalifahnya akan menjadi orang  yang menyerahkan panji kepadaImam Mahdi atau kepada Isa Al-Masih.”
“Pembicaraan seperti itu,” kata Asy Syami,”benar-benar tidak beralasan.” “Pembentukan kekhalifahan tidak selalu berarti bahwa kita adalah orang-orang yang akan berperang di Dabiq dan bahwa kita adalah orang-orang yang akan menaklukan Roma, dll. Dua ilusi lainnya adalah perbandingan antara Negara Islam saat ini dan negara muslim awal (di Madinah). Selama Perang Ahzab, dimana Nabi dan para sahabatnya menang atas pengepungan panjang oleh musuh-musuh mereka, dan bahwa Negara Islam dapat entah bagaimana mundur ke gurun, kemudian memulihkan
kekuataannya dan merebut kembali semua yang telah hilang.” “Tidak ada negara tanpa wilayah,” tegasnya.
Asy-Syami mengakhiri suratnya dengan seruan kepada ikhwan-ikhwan mujahidin untuk segera menuntut agar khalifah melangkah maju dan agar menyatakan pandangannya dengan jelas tentang apa yang telah terjadi dan membubarkan Komite Delegasi yang korup. “Satu-satunya yang bisa mengakhiri malapetaka ini adalah khalifah.” Namun, Asy-Syami tidak berharap banyak. Berharap untuk segera mati, ia menulis bahwa ia berdo’a generasi mujahid masa depan dapat belajar dari pengalaman yang ia tulis tersebut dan tidak melakukan kesalahan yang sama, yaitu membiarkan Ghulat berada di barisan mujahidin.

InsyaAllah bersambung …

 

Sumber :  Sejarah Ghulat di Lajnah Mufawwadhah

 

Baca juga, SERIAL SEJARAH GHULAT ISIS (IS) : PERANG OPINI