Serial Sejarah Ghulat ISIS (IS) : Kembali ke Jalan yang Benar, Masalah Ta’mim 17 Mei

Baca Sebelumnya, SERIAL SEJARAH GHULAT ISIS (IS) : TERAPI KEJUT (SHOCK THERAPY)

Duniaekspress.com. (20/11/2020). – Pada tanggal 15 September, Komite Delegasi mengeluarkan sebuah ta’mim baru. “Ditujukan kepada seluruh wilayah, departemen, dan badan. Setelah salam dan memanjatkan puji kepada Allah serta selawat kepada Nabi, diumumkan bahwa :
Telah dicabut secara resmi ta’mim Lajnah Mufawwadhah yang lalu dengan judul : ليهلك من هلك عن بينة ويحيى من حي عن بينة

(Agar Orang yang Binasa Itu Binasa dengan Bukti yang Nyata dan Agar Orang yang Hidup Itu Hidup dengan Bukti yang Nyata) Karena didalamnya banyak kesalahan kesalahan syar’i yang menyebabkan perpecahan di barisan mujahidin secara khusus dan kaum muslimin secara umum.”
Ta’mim juga mengesahkan ulang dua kitab dari Kantor Penelitian dan Studi milik Al-Bin’ali yang telah ditarik oleh Komite Delegasi pada awal Juli. Akhirnya, hal itu mengingatkan para pembacanya tentang “kebaikan kembali ke kebenaran”, sebuah frasa yang akan menjadi judul sebuah artikel surat kabar An-Naba edisi berikutnya.
Pendukung Turki Al-Bin’ali tampaknya kembali ke kekuasaan. Apa yang mendorong pembalikan itu ?

Pada awal September, ada desas-desus bahwa Abu Bakar Al-Baghdadi telah kembali ke tempat kejadian setelah lama tidak hadir ; dalam melakukan hal itu, dia datang dengan ketegasan terhadap pengikut Al-Hazimi, menahan banyak dari mereka, termasuk dua dari pemimpin mereka, Abu Hafsh Al-Jazrawi dan Abu Maram Al-Jazari.

Setelah ta’mim 15 September, kantor-kantor berita berbahasa ‘Arab menguatkan desas-desus itu, mengatakan bahwa Baghdadi sedang merebut kembali kendalinya, pemecatannya terhadap pro Hazimiyyun (ghulat takfir) dan pendukung mereka, dan pengangkatan Abu ‘AbdurRahman Asy Syami, seorang ulama veteran Negara Islam, sebagai pemimpin Komite Delegasi yang baru. Asy Syami juga ditugaskan untuk memperjelas ajaran resmi mengenai isu takfir yang segera ia lakukan dalam serangkaian silsilah audio. Dalam seri ini, Asy-Syami mengecam Pro Hazimiyyun dalam semua bentuknya, menolak takfir al ‘adzir dengan alasan bahwa takfir bukan bagian dari ushuluddin, tetapi hanya salah satu dari wajibatuddin.

Efek umum dari perbedaan ini adalah untuk mengurangi keutamaan takfir dan menciptakan kelonggaran untuk perselisihan mengenai hal-hal, seperti udzur bijahl.
Bagi pendukung Al-Bin’ali, ada keadilan puitis dalam pilihan AbuʻAbdurRahman Asy-Syami untuk peran ini. Tidak hanya dikenal sebagai lawan utama Hazimiyyun ; dia ditangkap oleh Kantor Penelitian Metodologi dan dipenjara karena pemahamannya yang lebih moderat. Rekaman tiga jam dari salah satu sesi dengan Kantor Penelitian Metodologi telah tersedia di Telegram. Sepanjang wawancara, para peneliti yang dipimpin oleh Abu Maram Al-Jazari dengan kasar menyebut Asy-Syami sebagai Abu Fulan dan Asy-Syami berulang kali mengoreksinya.
Dengan menuntut rasa hormat, “Saya bukan Abu Fulan. Saya Abu ‘Abdur Rahman Asy-Syami. Saya telah menjadi hakim ditempat ini sejak 2005. Saya bukan orang baru.” Asy-Syami yang juga dikenal sebagai Abu ‘Abdur Rahman Az-Zarqawi memiliki hubungan dekat dengan kepemimpinan Qaidah Jihad di ‘Iraq. Meskipun ia tampaknya menyimpan sebagian besar profil bawahan dalam organisasi, ia dikenal sebagai penulis jawaban panjang lebar untuk kritik Abu Qatadah Al-Filistini tentang Negara Islam pada tahun 2015. Setelah Al-Baghdadi menegaskan kembali otoritasnya dan Asy-Syami sekarang bertanggung jawab untuk urusan agama, pertanyaannya sekarang adalah apakah perseteruan pro Al-Bin’ali- Al Hazimi akhirnya telah diatasi ?

Apapun  masalahnya, jelas dari yang disebutkan sebelumnya bahwa ketidak puasan di Negara Islam (ISIS) adalah masalah takfir. Ada frustasi dengan korupsi administrasi, media yang tidak jujur, dan program yang tidak terpenuhi, dan yang paling penting, kekalahan teritorial yang tak berkesudahan.   (AB).

Alhamdulillah selesai…

Sumber :  Sejarah Ghulat di Lajnah Mufawwadhah

 

Baca juga, SERIAL SEJARAH GHULAT ISIS (IS) : PERANG OPINI