Duniaekspress.com, 21 November 2020. Kemenangan Azerbaijan atas Armenia sungguh telak. Armenia pulang dari daerah yang disengketakan dengan rasa malu. Rusia akhirnya turun tangan untuk mendamaikan dua negera yang berperang; Armenia-Azerbaijan. Namun dari konflik yang terjadi di pegungan Kaukasus itu, penulis miris dengan sikap para pendukung ISIS yang tidak merasa berbahagia dengan kalahnya Armenia dengan alasan sangat klasik; Azerbaijan adalah negara syiah.

Kalau kita kembali ke data, Azerbaijan bukan negara syiah karena Azerbaijan bukan negara agama. Azerbaijan itu negara sekuler dan masyarakatnya sangat sekuler. Kita akan kesulitan untuk mendapatkan muslimah yang berhijab-berkerudung, kecuali hanya karena faktor budaya dan bukan karena agama. Memang penduduknya mayoritas adalah safawi syi’i, namun mereka bukanlah orang yang taat beragama, mereka sejatinya sekuleris.

Dan yang perlu digaris bawahi juga, konflik Armenia-Azerbaijan juga bukan konflik agama, murni urusan non agama. Jadi memang tidak ada kaitannya dengan kesyi’ahan warganya. Namun, karena Armenia adalah negara yang identik dengan kristen, apalagi ada sekte Kristen yang dinisbatkan ke negara itu, dan pada saat yang sama Azerbaijan dianggap sebagai negara muslim; maka konflik ini digambarkan sebagian orang dengan konflik Kristen Vs Muslim. Maka jangan heran kalau para pemeluk dua agama ini diam-diam memberikan dukungan kepada Armenia dan Azerbaijan.

Namun, seperti yang penulis tuliskan sebelumnya, pendukung ISIS seolah menggambarkan kalau dua negara ini adalah musuh dan bahkan -yang membuat penulis terkaget- para pendukung ISIS melihat kalau Azerbaijan adalah negara yang lebih buruk dibandingkan Armenia. Dalam hal ini, ISIS dan salafi memiliki timbangan yang sama ketika melihat syiah dan Iran. Bagi mereka syiah dan Iran lebih kufur dibandingkan yahudi dan Amerika. Syiah dipandang musuh sejati namun bertopengkan Islam, jadi lebih berbahaya dan lebih harus dihancurkan terlebih dahulu daripada kafir asli manapun. Pemikiran ini diajarkan dengan kaku tanpa melihat aspek-aspek lain yang bisa dirukunkan untuk kepentingan pragmatis antara syiah-sunni dan Iran-gerakan Islam.

Kembali ke konflik Armenia-Azerbaijan, secara tabiat manusiawi, seseorang pasti akan cenderung kepada kelompok yang memiliki kemiripan dengannya. Namun tidak untuk ISIS dan salafi, bagi mereka kesamaan itu harus 100%. Maka jangan heran jika kita disuguhkan dengan fenomena tahzir dan hijr di dunia persalafian -dan ISIS-, hal itu dilakukan untuk menjamin bahwa masing-masing kelompok dan personal salafi harus terikat dengan nilai-nilai mereka secara kaku, yang memiliki varian salafi berbeda. Misalnya, salafi namun memperjuangkan penegakkan syariat Islam maka akan diserang sebagai salafi imitasi, sururi, khariji; atau dalam kasus yang lain, salafi tapi juga membicarakan partai Islam, kekhilafahan, penindasan Isreal atas Palestina, maka salafi dengan varian yang seperti ini akan ditahzir dan diasingkan dari dunia persalafian.

Begitu juga ISIS, mereka ketat dan kaku. Jika ada gerakan jihad yang juga mendukung partai Islam -yang memperjuangkan Islam lewat parlemen- maka akan ditahzir dan dimusuhi. Syukur jika tidak dikafirkan. Bagi mereka, jihadis yang masih mendukung gerakan Islam lewat parlemen dan demokrasi adalah jihadi murji’i. Maka jangan heran gerakan jihadi ansharul Islam di Iraq dimusuhi oleh ISIS dan bahkan beberapa kali ada bentrokan berdarah dan pembunuhan kepada mujahid-mujahid ansharul Islam.

Kembali ke konflik Armenia-Azerbaijan, karena ada faktor kedekatan dan dalam konflik tersebut tergambar bahwa Azerbaijan mewakili muslim maka jangan heran kalau kaum muslimin merasa senang dengan kemenangan Azerbaijan dan sebaliknya, Kristen dan Barat merasa terpukul dengan kalahnya Armenia. Dan di sisi lain, maka sangat logis pula jika negara-negara muslim seperti Turki dan lainnya mendukung Azerbaijan; karena adanya faktor kemiripan dan beberapa faktor lainnya. Dan sayangnya hal ini alfa untuk dipahami mereka-mereka yang berkepala batu dan bersikap kaku.
****

Kemenagan Romawi dahulu membuat Rasulullah SAW dan para sahabat gembira, karena Romawi adalah ahlul kitab dan lebih dekat kepada Islam dan kaum muslimin, selain ada kemiripan dalam beberapa keyakinan; sedangkan di sisi yang lain Persia adalah paganis, musyrik, dan memiliki titik permusuhan dengan Islam dan keyakinannya. Allah Ta’ala berfirman:

غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4)

“Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (mengalahkan Persia) dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” [Q.S. Ar-Rum/30: 2-4].

Telah diriwayatkan bahwa orang-orang Persia menyerang orang-orang Romawi akhirnya terjadi pertempuran di Azri‘at dan Busra, Syam. Ringkasnya, Romawi menang, Rasulullah dan para sahabat bergembira dengan kemenangan itu sedangkan musyrikin Makkah bersedih dengan kekalahan itu. Karena Romawi lebih dekat dan memiliki kemiripan dengan Islam dan kaum muslimin. Hal inilah yang tidak dipahami ISIS dan salafi sehingga mereka sangat benci dengan kemenangan Azerbaijan yang warganya syiah.

Di sisi lain, penulis juga heran dengan ISIS, salafi dan beberapa tokoh organisasi Islam yang malah senang dengan kekalahan Turki -jika kasusnya negara- dan sangat senang jika gerakan Islam lainnya celaka. Sungguh ini adalah penyakit hati yang sangat akut. Mereka merasa senang dengan terjungkilnya Presiden Mursi hanya karena ia dari Ikhwanul Muslimin. Ini sangat rancu. Bagaimana bisa gerakan Islam lebih menyenangi kehancuran saudara seimannya?

Perhatikan Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dan yang buruk akan tetapi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari kedua keburukan.” Camkan perkataan beliau ini semoga Allah menangkan kalian. [ ]

Baca juga, MAULID NABI: SALAFI, ISIS DAN EKSTRIMISME BERAGAMA