DUNIAEKSPRESS.COM (3/2/2021)– Penyerangan terhadap di Jerman kembali terjadi. Kali ini penyerangan masjid terjadi di negara bagian federal Baden-Wurttemberg di barat daya Jerman pada Jumat (1/1) dini hari.

Penyerangan tersebut menjadi serangan kedua terhadap masjid itu yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Dilansir Iqna.ir, Ahad (3/1) masjid yang diserang pada dini hari tahun baru bernama Masjid Fatih yang berada di kota Sontheim, Baden-Wurttemberg.

Menurut ketua Yayasan Masjid Fatih, Ali Ozdemir penyerangan itu membuat sejumlah material masjid mengalami kerusakan. Ozdemir mengatakan jendela dan pagar kayu di luar masjid mengalami kerusakan akibat serangan itu. Masjid Fatih sendiri berada di bawah naungan Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB).

“Ini adalah serangan kedua yang terjadi di masjid kami dalam dua minggu terakhir,” kata Ali.

Baca juga:

DIHANTAM BOM AL-QAEDA MALI, 2 TENTARA PRANCIS TEWAS

PAKISTAN TANGKAP PIMPINAN LASHKAR E TAIBA

Ali mengatakan setelah serangan itu komunitas masjid dan anggota yayasan merasa khawatir. Ali mengatakan telah melaporkan kejadian itu kepada kepolisian setempat yang kini tengah melakukan penyelidikan atas insiden itu.

Dalam penyerangan sebelumnya, pelaku yang belum diketahui identitasnya melakukan aksi vandalisme di masjid Fatih. Pelaku menggambar salib di dinding masjid.

Rasisme dan Islamophobia di Eropa

Rasisme dan Islamophobia terus terjadi di Eropa. Bahkan kini dinegara Jerman yang pernah punya sejarah rasisme dan pembantaian terhadap kaum Yahudi ternyata sikap itu terus tumbuh, bahkan menguat. Kalangan di Jerman pun menyaksikan meningkatnya sentimen tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan dalam tiga bulan tercatat sekitar 15 masjid diserang sejak April sampai Juni 2020. Tak cukuo itu, puluhan Muslim juga diserang secara fisik atau dilecehkan secara verbal di jalan atau tempat umum.

Daily Sabah melaporkan, sembilan Muslim terluka dalam serangan itu selama kurun waktu yang terakhir tersebut. Jumlah masjid dan Muslim yang diserang itu adalah data terbaru yang dirilis Kementerian Dalam Negeri Jerman.

“Penyelidikan kriminal diluncurkan terhadap beberapa tersangka, sejauh ini belum ada penangkapan, kata Kementerian Dalam Negeri Jerman.

Sementara menurut laman media Farsnews, Sabtu (10/10) menyatakan hampir 40 kejahatan rasial anti-Muslim tercatat di Ibu Kota Berlin.

Lalu siapa pelakunya? Aksi rasisme dan kekerasan dipicu propaganda kelompok neo-Nazi dan partai oposisi sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD), yang didirikan pada 2013. Kelompok ini mulai menguat karena untuk pertama kalinya mereka mampu memperoleh kursi di parlemen nasional Jerman setelah pemilu pada 2017.

Kejahatan rasial anti-Muslim juga didorong kemarahan pemilih atas keputusan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk menyambut pencari suaka dari Timur Tengah dan Afrika.

Partai tersebut sering mendapat kecaman karena mengekspresikan sentimen anti-Islam dan anti-migran. Dukungan nasional untuk AFD telah turun dari 14 persen pada September 2019 menjadi 8 persen. Menurut survei yang dilakukan lembaga survei Berlin Forsa.

Sebagai negara berpenduduk lebih dari 80 juta orang, Jerman memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Jumlahnya hampir 4,7 juta Muslim di negara itu, tiga juta Muslim berasal dari Turki. [rep]